banner 728x250

Ketika Anak Bicara: Dari Halaman Sekolah ke Pinggir Jalan

banner 120x600
banner 468x60

Berita Harian Nusantara, Jambi – Sebanyak 30 anak dari berbagai jenjang pendidikan diwawancarai sebagai bagian dari aksi sosial Duta Gender dan Anak 2025 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Wawancara dilakukan secara langsung dan sedikit dari online, di lokasi yang berbeda, termasuk halaman sekolah, masjid dan ruang publik di pinggir jalan. Kegiatan ini bertujuan menggali aspirasi, nilai, dan pandangan anak-anak tentang kehidupan, pendidikan, serta kesetaraan. Foto dokumentasi disertakan dengan izin dan telah diblur untuk menjaga privasi.

Anak SD: Dunia Polos dan Harapan Sederhana
Di usia yang masih belia, anak-anak SD menempatkan bermain dan sekolah sebagai keseharian mereka. Dunia mereka sederhana, namun kaya rasa ingin tahu dan harapan. Dalam tawa dan lari-lari di halaman sekolah, mereka belajar bersosialisasi, berbagi, dan mengekspresikan diri. Sekolah menjadi tempat mereka mengenal dunia yang lebih luas, sementara permainan menjadi cara mereka memahami nilai kebersamaan.

banner 325x300

Beberapa anak dengan polos menuturkan cita-cita mereka, yang sederhana namun penuh makna:
“Aku ingin jadi tentara untuk membela negara.”
Selain itu, mereka menegaskan peran orang tua sebagai sumber perhatian dan kasih sayang yang tak tergantikan:
“Ibu dan ayah karena mereka yang mengurus kita.”
Meski sederhana tetapi ruang publik bisa menjadi arena belajar lain, mereka bermain sambil berbagi cerita dan harapan. Di situ, anak-anak merasakan bahwa setiap ruang dapat menjadi tempat tumbuh dan berkembang.

Anak SMP: Menyadari Dunia Sosial dan Aspirasi
Memasuki usia SMP, anak-anak mulai menyeimbangkan sekolah, hobi, dan interaksi sosial. Mereka mulai memahami pentingnya empati terhadap teman dan anak-anak yang kurang beruntung. Aktivitas mereka beragam: dari olahraga, ekstrakurikuler, hingga bermain di ruang publik setelah pulang sekolah.

Beberapa anak menekankan aksi nyata untuk membantu teman yang belum bisa mengenyam pendidikan:
“Bantu dia belajar membaca menulis dan lain-lain.”
“Memberi mereka buku atau menolong belanja dagangan mereka.”
Sementara itu, cita-cita mulai mengerucut sesuai minat dan bakat:
“Saya ingin menjadi pilot di pesawat terkenal.”
“Masuk timnas, jadi pemain bola.”
Pinggir jalan bagi mereka bukan sekadar tempat bermain, tetapi menjadi ruang mengekspresikan diri, membangun persahabatan, dan belajar tentang kehidupan. Di sinilah, ruang publik berubah menjadi arena sosial dan pendidikan tanpa batas.

Remaja SMA: Kemandirian, Nilai Hidup, dan Ambisi
Remaja SMA menjalani kehidupan yang lebih kompleks: sekolah, ekskul, hobi, dan interaksi teman. Mereka mulai merumuskan prinsip hidup yang menjadi pegangan, sekaligus membangun identitas diri. Nilai seperti ketekunan, kejujuran, dan keberanian bukan sekadar kata, tapi pedoman yang mereka praktikkan setiap hari:
“Pantang mundur sebelum dapat.”
“Jujur dan rajin, tidak putus asa.”
“Jangan mengaku jantan kalau tidak berani mencoba.”

Aspirasi mereka tinggi, realistis, dan penuh ambisi:
“Saya ingin menjadi pengusaha sukses.”
“Menjadi musisi dan punya band.”
“Aku ingin menjadi penambang, kerjanya di lapangan langsung.”

Halaman sekolah dan area sekitar masjid menjadi ruang mereka mengekspresikan diri, berinteraksi, dan membangun jaringan sosial. Aktivitas di ruang publik menunjukkan bahwa kemandirian, tanggung jawab, dan persahabatan tumbuh beriringan dengan impian mereka.

Kesadaran Kesetaraan dan Nilai Moral
Di semua jenjang, anak-anak menegaskan pentingnya kesetaraan dan perlakuan yang adil:
“Setara berarti sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.”
“Tidak berbeda.”
“Bhinneka tunggal ika.”
Suara mereka menjadi pengingat bahwa hak anak untuk belajar, bermain, dan berkembang bukan sekadar teori, tapi tanggung jawab kolektif. Ruang aman, pendidikan berkualitas, dan kesempatan berkembang harus tersedia bagi semua anak, tanpa memandang latar belakang.

Meskipun anak-anak yang diwawancarai bukan kelompok rentan, wawancara ini memberi gambaran nyata tentang mimpi, nilai, dan aktivitas sehari-hari mereka. Aktivitas di ruang publik, dari bermain hingga belajar, menegaskan pentingnya hak anak untuk mengekspresikan diri, belajar, dan berkembang. Suara mereka menjadi pengingat bahwa pendidikan, ruang aman, dan kesempatan berkembang harus tersedia bagi semua anak, tanpa memandang latar belakang.

Penulis: Fadhli Sinaga
Editor: Fal

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *