Berita Harian Nusantara, Jambi – Warga Desa Baru Nalo, Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, dihebohkan dengan penemuan sesosok mayat pria dalam kondisi membusuk di sebuah perkebunan kelapa sawit, Senin (6/10/2025). Korban diketahui merupakan seorang Ketua RT yang telah hilang selama lebih dari seminggu.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari HJNewsTV Jambi, korban teridentifikasi bernama Darussalam (53), warga RT 6, Dusun Tinggi, Desa Pulau Layang, Kecamatan Batang Masumai, yang juga menjabat sebagai Ketua RT setempat.
Jasad korban pertama kali ditemukan oleh seorang pemilik kebun yang hendak memanen sawit. Saksi melihat mayat dalam posisi telentang dan segera melaporkan temuan tersebut kepada pihak berwajib.
Aparat dari Polsek Bangko dan Satreskrim Polres Merangin yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mengevakuasi jenazah.
Kanit Reskrim Polsek Bangko, Ipda Demon Afrianto, mengonfirmasi identitas korban. Ia menjelaskan bahwa pihak keluarga sebelumnya telah membuat laporan kehilangan.
“Menurut dari informasi dari keluarga, ada penyakit bawaan dari yang bersangkutan. Perkiraan mungkin satu minggu yang lalu, yang bersangkutan dari keluarga korban sudah membuat laporan kehilangan orang di Polres Merangin,” ujar Ipda Demon Afrianto.
Sementara itu, Kepala Desa Baru Nalo, Thamrin, menuturkan bahwa korban dilaporkan pamit dari rumah pada tanggal 27 September 2025 untuk mencari brondolan sawit, namun tak kunjung kembali. Setelah menerima laporan penemuan mayat di wilayahnya, ia segera berkoordinasi untuk proses evakuasi.
“Pagi sekitar jam 11, dapat laporan dari warga Pulau Layang, jadi yang meninggal atas nama Darussalam ini sudah ditemukan. TKP-nya di wilayah Desa Baru Nalo. Jadi saya langsung ambil ambulans, saya langsung bawa ke sano,” ungkap Thamrin.
Menurut keterangan keluarga, korban memiliki riwayat penyakit komplikasi seperti sakit maag, darah tinggi, dan pembekuan darah di otak. Pihak keluarga telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak untuk dilakukan autopsi. Jenazah korban rencananya akan dimakamkan di Bengkulu.
Proses evakuasi jenazah berlangsung dramatis. Tim harus membawa jenazah melintasi sungai selebar 30 meter dengan mobil ambulans yang ditarik menggunakan mobil double cabin karena tidak adanya jembatan di lokasi tersebut.
